Model Pembelajaran Teaching Factory untuk Meningkatkan Kompetensi Siswa Dalam Mata Pelajaran Produktif

9 Juni 2021 Admin Dibaca 309 kali Informasi publikasi,tefa,polije
Model Pembelajaran Teaching Factory untuk Meningkatkan Kompetensi Siswa Dalam Mata Pelajaran Produktif

(Dadang Hidayat M., 2011)

Muhammad, D. H. (2011). Model Pembelajaran Teaching Factory Untuk Meningkatkan Kompetensi Siswa Dalam Mata Pelajaran Produktif. Jurnal Ilmu Pendidikan, 17(229). http://journal.um.ac.id/index.php/jip/article/view/2729/1265

Model Pembelajaran Teaching Factory untuk Meningkatkan Kompetensi Siswa dalam Mata Pelajaran Produktif. Model teaching factory enam langkah adalah model pembelajaran hasil penelitian dengan menggunakan metode R&D. Model ini bertujuan meningkatkan kompetensi produktif siswa SMK. Enam langkah dari satu siklus model ini, yaitu menerima pemberi order, menganalisis order, menyatakan kesiapan mengerjakan order, mengerjakan order, melakukan quality control, dan menyerahkan order. Sebelum siklus model dilaksanakan, siswa dengan guru melakukan kesepakatan menciptakan iklim industri di sekolah, melakukan latihan berkomunikasi, dan berlatih menganalisis order. Model dilakukan dalam blok waktu enam minggu pada semester empat, enam minggu pada semester lima dan dilanjutkan dengan uji kompetensi. Hasil penelitian menunjukkan model ini efektif meningkatkan kompetensi produktif siswa.

Secara umum, kuantitas dan kualitas pendidikan tek-nologi dan kejuruan di Indonesia masih harus diting-katkan. Berbagai tantangan masih dihadapi dalam penyelenggaraan pendidikan teknologi dan kejuruan. Menurut Suranto (2006), permasalahan dan tantangan tersebut adalah masih rendahnya partisipasi masyarakat untuk membiayai pendidikan, terutama di bidang ke-teknikan, vokasi, okupasi, bahkan saat ini terjadi ke-merosotan peminat kuliah di bidang keteknikan atau kejuruan. tantangan yang lain adalah tingginya persen-tase lulusan bidang keteknikan yang belum mendapat kerja; penyelenggaraan pendidikan program ketek-nikan membutuhkan biaya yang tinggi dibandingkan dengan pendidikan program ilmu sosial; kurikulum yang selama ini dipakai kurang mempunyai tingkat keluwesan dan terlalu terstruktur sehingga kurang peka terhadap tuntutan kebutuhan lapangan kerja secara luas dan kurang berorientasi ke pasar kerja; serta pen-didikan keteknikan dan kejuruan di perguruan tinggi mengalami penurunan kualitas dan kuantitas.

Salah satu kebijakan pembelajaran program tek-nologi dan kejuruan yang didengungkan pemerintah dengan kebijakan link and match belum mampu men-jawab masalah di tingkat bawah. Dari banyaknya tantangan dan masalah, link and match diubah dengan istilah we serve the real world, artinya apa yang di-keluarkan oleh lembaga pendidikan dapat dilayani oleh dunia kerja. Begitu pula sebaliknya, apa yang diingin-kan dunia kerja dapat dilayani oleh lulusan lembaga pendidikan terutama lulusan perguruan tinggi dan sekolah menengah kejuruan (SMK). Oleh karena itu, harus dicari model pembelajaran dengan pendekatan

integrated learning. Dengan menggunakan sarana fasilitas yang dimiliki, sekolah menciptakan suasana industri tanpa harus melibatkan industri secara lang-sung. Namun demikian, siswa merasakan suasana in-dustri, terbina kecakapan hidup (life skill), dan tercapai kompetensi kerja dalam suasana industri di sekolah.

Beberapa masukan terhadap kebijakan pemerin-tah maupun penyelenggara program studi agar cepat berbenah menurut Suranto (2006) adalah strategi pem-belajaran dari pendekatan supply driven ke demand driven; pembelajaran dari berbasis kampus (campus based programp) ke sistem berbasis industri (industrial based program), pembelajaran model pengajaran ke model kompetensi dan menganut prinsip multy entry dan multy exit; serta pembelajaran program dasar yang sempit menuju program dasar yang mendasar, kuat dan fokus atau focused based education dan pembe-lajaran yang mengakui keahlian yang diperoleh dari manapun. Pembelajaran yang dipandang dapat meng-akomodasi kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah pembelajaran berbasis dunia kerja. Pada dasarnya ia memiliki nilai kebermaknaan lebih tinggi, terutama dalam memberikan pengalaman secara langsung kepa-da siswa. Namun demikian, strategi ini membutuh-kan perancangan dan pelaksanaan pembelajaran lebih rumit karena melibatkan berbagai pihak luar (ekster-nal), seperti dunia usaha atau dunia industri, para ah-li industri/usaha, atau asosiasi profesi. Pendekatan ini dalam implementasinya antara lain dapat berupa magang industri/usaha, pembelajaran praktikum di industri/usaha, guru tamu, serta kerjasama pembe-lajaran yang lain. Demikian juga perlu perancangan dan pelaksanaan secara cermat dalam kegiatan pem-belajaran berbasis dunia kerja tersebut.

Perkembangan industri manufaktur didukung oleh penelitian dan pengembangan, sistem mana-jemen berbasis ICT, kompetensi sumber daya manusia, serta sistem pemasaran global. Hal ini semata-mata untuk mempertahankan dan memenangkan persaingan bisnis kelas dunia. Faktor yang paling strategis bagi industri adalah tersedianya keahlian sumber daya ma-nusia yang mampu mengadaptasi perkembangan tek-nologi. Sejalan dengan hal tersebut (Lamancusa, dkk., 1995) menjelaskan bahwa lahirnya teaching factory bertolak dari hasil pemikiran para pengajar di ling-kungan The University of Puerto Rico-Mayagüez dan the University of Washington. Pemikiran dari para ahli di universitas tersebut menyangkut gagasan adanya revitalisasi dan rekognisi di lingkungan laboratorium secara kreatif melalui pengembangan konsep teach-ing factory.

Konsep teaching factory dilandasi oleh pandang-an praksis pendidikan tinggi di lingkungan universitas. Proses pendidikan dikembangkan berdasarkan replika perkembangan industri manufakatur. Pihak industri, dengan semangat kerjasama sangat mendukung ga-gasan tersebut dan memberikan fasilitas sebagai re-kanan. Selain itu, pihak dosen dan mahasiswa siap untuk melakukan rekognisi intelektualnya, melalui konsep learning factory. Alef dan Berg (1996) mende-finisikan learning factory dalam konteks pendidikan pemasaran produk industri, sebagai bekal pengetahuan dan keterampilan bagi para mahasiswa di suatu uni-versitas.

Dengan demikian, sangat penting bagi para ma-hasiswa untuk mempunyai pengalaman belajar yang mereflikasikan atau mensimulasikan industri manu-faktur yang relevan. Berdasarkan realita, maka uni-versitas mewujudkan suatu badan yang diberi nama The Manufacturing Engineering Education Partner-ship (MEEP). Tugas badan ini adalah melaksanakan program kerjasama antara universitas khususnya di lingkungan laboratorium dengan pihak industri terkait, baik dalam bentuk kurikulum dan pembalajarannya, maupun dalam pengkondisian sistem pelayanannya.

Berdasarkan hasil kajian dari beberapa literatur pendidikan Jerman, Austria, Inggris dan Francis; model pendidikan teknologi dan kejuruan yang disebut de-ngan dual system sudah lebih dahulu bahkan ratusan tahun yang silam, dibandingkan dengan di Amereka Serikat tahun 1950-an. Namun demikian Jerman, saat ini juga mengembangkan sistem teaching factory, dari sudut pandang sosialisasi dan memberikan bantu-an ahli pendidikan kepada beberapa negara berkem-bang, seperti Thailand, Vietnam, dan Indonesia. Titik beratnya adalah penyesuaian peristilahan dalam kon-teks globalisasi pendidikan. Sementara itu Indonesia-German Institut mendifinisikan teaching factory seba-gai suatu konsep pembelajaran dalam suasana sesung-guhnya, sehingga dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan industri dan pengeta-huan sekolah. Teknologi pembelajaran yang inovatif dan praktik produktif merupakan konsep metode pendi-dikan yang berorientasi pada manajemen pengelolaan siswa dalam pembelajaran agar selaras dengan kebu-tuhan dunia industri (Yudisman, 2008).

Dalam pengertian lain, pembelajaran berbasis produksi adalah suatu proses pembelajaran keahlian atau ketrampilan yang dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesung-guhnya (real job) untuk menghasilkan barang atau jasa yang sesuai dengan tuntutan pasar atau konsumen. Barang yang diproduksi dapat berupa hasil produksi yang dapat dijual atau yang dapat digunakan oleh ma-syarakat, sekolah, atau konsumen. Pembelajaran ber-basis produksi dalam paradigma lama hanya meng-utamakan kualitas produk barang atau jasa, tetapi hasil dari produksi tersebut tidak akan dipakai atau dipasarkan, hanya semata-mata untuk menghasilkan nilai dalam proses belajar-mengajar. Kasus adopsi dan adaptasi konsep teaching factory di Indonesia, melalui program Direktorat Pembinaan SMK, Depar-temen Pendidikan Nasional telah dan sedang diu-jicobakan di beberapa SMK sebagai tindak lanjut dari program Unit Produksi dan Sistem Ganda.

Perumusan model mempunyai tiga tujuan utama. Model memberikan gambaran atau deskripsi kerja sistem untuk periode tertentu, dan di dalamnya secara implisit terdapat seperangkat aturan untuk melaksa-nakan perubahan, atau memprediksi cara sistem ber-operasi di masa depan. Ia memberikan gambaran ten-tang fenomena tertentu menurut diferensiasi waktu atau memproduksi seperangkat aturan yang bernilai bagi keteraturan sebuah sistem. Memproduk model bertujuan untuk mempresentasikan data dan format ringkas dengan kompleksitas rendah.

Pengertian model pembelajaran dalam konteks learning factory merupakan landasan praktik pem-belajaran hasil penurunan teori psikologi pendidikan dan teori belajar, yang dirancang berdasarkan proses analisis yang diarahkan pada implementasi kurikulum dan implikasinya pada tingkat operasional di depan kelas atau laboratorium. Ditinjau dari konsep model mengajar era klasik seperti dikemukakan oleh Joyce dan Well (2000), model mengajar dikelompokkan menjadi empat rumpun, yaitu model pemrosesan infor-masi (processing information model), model pribadi (personal model), model interaksi sosial (social model), dan model perilaku (behavior model). Ditinjau dari konsep model era baru yang didorong oleh per-kembangan teori psikologi belajar yang sebelum ber-tolak dari asumsi kurva normal bergeser kepada asumsi multi kecerdasan (modalitas) yang dipelopori Gardner (1992), adanya koreksi dari taksonomi Bloom (An-derson, 1999), dan kurikulum materi berorientasi pada kompetensi; model belajar menjadi tiga kelompok, yakni (1) behaviorisme; (2) cognitivisme, dan (3) con-structivisme.

Bertolak dari kajian tersebut, learning factory cenderung titik beratnya ke arah konstruktivisme, de-ngan tidak mengurangi model behaviorisme dan kog-nitivisme. Apabila ditinjau dari pendekatannya, learn-ing factory merupakan seting yang terkait langsung dengan lingkungan atau disebut learning contextual. Implikasinya bagi pengajar dalam melaksanakan tu-gasnya, mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, harus benar-benar memahami proses produk-si sesungguhnya sehingga dalam menyusun rencana dan pelaksanaan pengajaran dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Di sinilah titik berat perubahan atau suatu kreativitas pengajar diperlukan rekognisi intelektual dalam menghadapi perubahan konsep pe-ngajaran model learning factory.

Model pembelajaran teaching factory dilandasi oleh tuntutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan tahun 2006 (KTSP), model pembelajaran yang ber-basis produksi dan pembelajaran di dunia kerja, du-kungan mutu pendidikan dan latihan yang berorien-tasi hubungan sekolah dengan dunia industri dan dunia usaha dalam menerapkan unit produksi di seko-lah. Landasan lain adalah semakin mahalnya biaya bahan praktik siswa, peralatan yang harus terpelihara dalam kondisi standar, motivasi untuk meningkatkan kesejahteraan bagi warga sekolah; serta menimbulkan kepercayaan diri dan juga kebanggaan bagi lulusannya.

Secara umum model pembelajaran teaching fac-tory ini bertujuan untuk melatih siswa dalam mencapai ketepatan waktu, kualitas yang dituntut oleh industri, mempersiapkan siswa sesuai dengan kompetensi keah-liannya, menanamkan mental kerja dengan beradap-tasi secara langsung dengan kondisi dan situasi in-dustri, dan menguasai kemampuan manajerial dan mampu menghasilkan produk jadi yang mempunyai standar mutu industri.

Memperhatikan hal-hal tersebut, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kondisi pelaksanaan pem-belajaran mata pelajaran produktif, kompetensi keahli-an teknik permesinan, dilihat dari aspek guru, siswa, materi bahan ajar, sumber bahan ajar, sistem evaluasi, model pembelajaran, dan sarana/fasilitas pembelajaran. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mene-mukan model pembelajaran alternatif yang dapat me-ningkatkan kompetensi siswa dalam mata pelajaran produktif tersebut, khususnya dalam hal menemukan model pembelajaran teaching factory yang dapat mengembangkan kecakapan vokasional, kecakapan berpikir rasional, sosial, dan personal; menemukan mo-del pembelajaran teaching factory yang memadukan pendidikan sistem ganda, work based learning, lifeskill, serta pendidikan berbasis luas (broad based learn-ing); serta menemukan model pembelajaran teach-ing factory yang dapat mengembangkan kesadaran dan kemampuan diri siswa yang tinggi dan siap ber-kembang sebagai pekerja industri, berwirausaha, mau-pun mengembangkan diri di perguruan tinggi.

Share :

Komentar

Kontak Kami

Kami menerima saran, masukan dan siap untuk menjawab setiap pertanyaan terkait dengan kebutuhan anda. Jangan ragu untuk menghubungi kami.

Location:

Jl. Mastrip Kotak Pos 164 Sumbersari Jember

Email:

sgh@polije.ac.id

Call:

0331-333352